PASAR obligasi syariah (sukuk) global tampaknya tak harus menunggu waktu lama untuk menemukan kembali momentum pertumbuhannya. Berbagai Negara hingga korporasi,baik timur maupun barat , bakal memanfaatkan instrumen sukuk dalam menghimpun dana yang dibutuhkan.
Lembaga rating Standard & Poors baru-baru ini mengungkapkan,pasar sukuk global bakal kembali mencapai pertumbuhannya yang optimistis mulai akhir 2009 se-belum kemudian menanjak pada tahun depan.Menurutnya, pertumbuhan ini jauh lebih baik di-banding penerbitan sukuk global yang sedikit menurun pada 2008. Optimism serupa disampaikan The Dubai International Financial Centre Authority (DIFC).
DIFC meyakini, nominal nilai penerbitan sukuk telah dan tengah tengah penerbitannya di berbagai berbagai pasar keuangan dunia,terutama Timur Tengah tak kurang dari USD50 miliar dan berpotensi terus menanjak seiring pemulihan finan-cial global dan permintaan pendanaan ekonomi terus meningkat. Global CEO HSBC Amanah Mukhtar Hussain juga sangat optimitis bahwa pertumbuhan penerbitan sukuk global tahun depan akan mencatatkan momentum luar biasa.
Pada tahun ini saja, katanya, pihaknya optimistis bawa penerbitan sukuk global bisa mencapai USD15 miliar lebih. Sentimen pasar yang mulai berkembang di semester kedua tahun 2009 turut mendorong pasar sukuk global. "Penerbit sukuk memperoleh keuntungan dari kondisi pasar yang mulai atraktif dan solidnya likuiditas," katanya.
Meski begitu, diyakini bahwa angka ini masih lebih baik dibanding pasar obligasi non sukuk yang memiliki kerentanan yang lebih besar terhadap setiap sentimen negatif pasar keuangan dunia.Terlebih perhitungan ini juga masih belum menghitung secara keseluruhan penerbitan tahun 2009, dimana pasar keuangan global, terutama pasar yang menjadi basis penerbitan sukuk mengalami pemulihan.
Khusus di 2009 sendiri, poling yang dilakukan Reuters baru-baru ini juga menyebutkan, penerbitan sukuk global masih akan mampu mencatatkan pertumbuhan USD20 miliar tahun ini, sebelum kemudian melesat di tahun depan setelah alami fase tenang di tahun ini.Dari 12 bankir lembaga keuangan dan perbankan Islam, enam bankir optimistis bahwa nominal penerbitan sukuk global bisa bertambah lebih dari USD20 miliar.
Empat bankir lainnya meyakini bahwa nilai penerbitan obligasi global bakal tercapai atau melebihi USD15miliar-USD17 miliar. Sisanya, memperkirakan bahwa penerbitan sukuk di berbagai kawasan global hanya akan tercapai pada kisaran USD15 miliar. Meski demikian, seluruh bankir percaya bahwa penerbitan sukuk global akan kembali bergairah di tahun depan,menyusul sedikit stagnasi di 2009 menyusul kekeringan likuiditas di pasar keuangan dunia.
Menyusul krisis likuiditas di pasar global akibat krisis di sektor keuangan Amerika Serikat (AS) yang merembet ke berbagai kawasan lain dunia, seperti diungkap Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s, pasar obligasi sukuk global diperkirakan sedikit melemah pertumbuhan penerbitannya menjadi di kisaran USD14,5 miliar.Pelemahan terlihat dari nominal penerbitan sukuk sebesar USD9,3 miliar sepanjang tujuh bulan pertama 2009, turun dari USD11,1 miliar dalam periode yang sama pada 2008.
Berbagai perkiraan optimistis tentang pertumbuhan tahun depan maupun tahun ini tidak terlalu berlebihan.Tercatat beberapa negara dan korporasi swasta tengah dan berencana melakukan penerbitan obligasi sukuk. Indonesia misalnya,berencana menerbitkan sukuk senilai USD350 juta atau sekitar Rp3 triliun pada Februari tahun 2010 setelah sebelum nya berhasil menerbitkan sukuk USD650 juta.Indonesia optimistis,dengan pasar keuangan yang membaik, target penerbitannya bisa dicapai.
Untuk Sukuk dengan tenor sepanjang tiga tahun ini,pemerintah Indonesia mengalokasi kan asset dasar (underlying asset) berupa tanah dan bangunan senilai Rp20,3 triliun. PT Bank Mandiri, PT BRI Tbk, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas telah ditunjuk sebagai penjual sukuk tersebut.
"Pemerintah dapat menerbitkan maksimal sebesar total aset yang dijadikan aset dasar itu,yang dapat berupa sukuk ritel, sukuk korporasi, dan sukuk global ," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto. Selain Indonesia,Iran juga dikabarkan segera menerbitkan sukuk senilai 2,5 miliar euro dengan potensi pelebaran penerbitan hingga 5 miliar euro pada tahun depan.
Penerbitan sukuk dilakukan negara yang dipimpin Mahmoud Ahmadinejad dilakukan untuk menjaring pendanaan kegiatan investasi di sektor minyak bumi dan gas. Sumber pemerintahan Iran sendiri mencatat, Iran telah menawarkan pembelian sukuknya kepada Bank Pembangunan Islam (IDB). Selain itu, diharapkan Bank Pembangunan yang berbasis di Jeddah ini menawarkan sukuknya kepada lembaga-lembaga keuangan internasional lain.
"Pemerintah Iran akan menjamin bond interest (yang semestinya ditanggung investor)," ungkap Iranian Minister of Economics and Finance Affairs Seyyed Shamseddin Hosseini usai bertemu Deputy Head of the IDB Abdullah Aziz al-Hanavi seperti dilaporkan Press TV. Analis Malaysian Rating Corporation Wan Murezani Wan Mohamad mengatakan, maraknya penerbitan sukuk di tahun depan didorong oleh kecenderungan negara- negara dalam menjaring pendanaan bagi kepentingan stimulus fiscal pemulihan ekonomi dan keuangan masing-masing.
"Penerbitan sukuk global akan terdorong oleh kebutuhan pendanaan pemerintah negara-negara, terkait paket pendanaan stimulus fiskal masing- masing,"ujarnya. Selain itu, katanya, dorongan penerbitan sukuk yang cukup besar juga disebabkan oleh permintaan pendanaan investasi yang meningkat dari kalangan investor korporasi global.
Sejauh ini, jelasnya, beberapa korporasi yang bergerak di bidang infrastruktur dan energi yang paling banyak membutuhkan pendanaan, sehingga bukan tidak mungkin memanfaatkan instrument sukuk dalam menangguk dana- dana tersebut. Head International Finance and Capital Market OBC Al Amin Bank Berhad Alhami Mohammad Abdan menambahkan, sehatnya pasar modal global akan menjadi bagian dari faktor utama maraknya penerbitan sukuk global di tahun depan.
"Di 2010, diharapkan (penerbitan sukuk) akan lebih baik seiring penguatan statistic ekonomi sebagian besar kawasan global. Meski begitu,investor pasar sukuk masih akan mengambil sikap hati-hati,"katanya. Penjadwalan utang obligasi sukuk yang dilakukan Nakheel,anak usaha Dubai World senilai USD3,5 milliar tak akan cukup mempengaruhi minat negara-negara dan korporasi global menjaring pendanaan melalui penerbitan sukuk.
Terlebih setelah otoritas pemerintah setempat segera mengambil langkah cepat untuk menalangi kewajiban tersebut, sehingga hal itu tidak mengganggu kepercayaan investor global terhadap keuangan syariah. Negara lain seperti Bahrain juga tercatat cukup tinggi dibanding kawasan lain meski masih jauh di bawah pencapaian UAE yakni USD4,5 miliar sepanjang tahun yang sama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar